Dunkirk Movie Review

Dunkirk
Jumat, 21 Juli 2017

Directed by: Christopher Nolan

Tommy - Fionn Whitehead, Commander Bolton - Kenneth Branagh, Mr. Dawson - Mark Rylance, Farrier - Tom Hardy, Alex - Harry Styles


Dari begitu banyaknya sutradara di Hollywood, sangatlah jarang kita temukan sutradara yang mampu berbicara banyak di ajang penghargaan OSCAR sekaligus menjadikan filmnya sebagai sebuah popcorn movie dengan pencapaian box-office yang tinggi, dulu mungkin masih ada nama seperti Steven Spielberg, tetapi lambat laun sutradara yang sering disebut sebagai bapaknya blockbuster movies mulai tidak stabil pencapaiannya. Mungkin pada saat ini hanyalah Christopher Nolan yang menjadi sebuah anomali di dalam dunia perfilman Hollywood, meskipun belum memiliki CV yang cukup panjang, tetapi hasil akhir dari karyanya selalu dinantikan.

Nama besar Nolan mulai menarik perhatian sejak Memento dirilis, meskipun ceritanya sangatlah sederhana, tetapi yang membedakan adalah bagaimana Nolan menggunakan pendekatan yang berbeda dan cukup jenius di masanya, dimana secara bergantian Nolan menggunakan latar hitam putih dan warna sebagai penanda alur dan mencapai puncakya di akhir film. Meskipun Memento mendapat perhatian, tetapi nama besar Nolan benar-benar terangkat lewat trilogy Batman, setelah hancur leburnya franchise Batman karena film Batman and Robin, Nolan mengembalikan nama besar sang manusia kelelawar ke level tertinggi melalui Batman Begins, setelah itu kembali mengejutkan dunia dengan The Dark Knight yang sampai saat ini banyak orang merasa kalau itu adalah film superhero terbaik sepanjang masa.


Baca juga beberapa istilah dunia perfilman Hollywood yang wajib diketahui


Dunkirk sendiri bisa dibilang adalah proyek paling personal dari Nolan, karena ide pembuatan film ini sudah ada sejak jaman dirinya masih duduk di bangku sekolah, namun proyek ini terus mengalami penundaaan karena Nolan masih belum percaya diri dan merasa kalau pengalamannya belum cukup untuk menyutradarai sebuah film yang memang menjadi passion-nya sejak dulu

Nolan sendiri dikenal sebagai seorang sutradara yang ahli dalam menciptakan sebuah twist ataupun interpretasi bebas yang akhinya filmnya selalu menjadi perbincangan di kalangan fanboys dan pencinta film awam, kita masih ingat dan mungkin masih sering mendengar perdebatan mengenai ending dari Inception maupun Interstellar, lantas bagaimana jadinya kalau Nolan untuk pertama kalinya mencoba membuat sebuah film perang yang based on historical events yang secara logika tidak mungkin diselipkan sebuah twist di dalamnya?  Bukan Nolan namanya kalau tidak menggunakan pendekatan yang berbeda di dalam filmnya, untuk Dunkirk sendiri di dalam salah satu wawancaranya, Nolan menyatakan akan menggunakan tiga sudut pandang berbeda melalui air, laut dan udara, oleh sebab itu disarankan untuk JANGAN SAMPAI TERLAMBAT MASUK KE DALAM BIOSKOP, karena informasi yang diberikan di awal film sangat penting.

Salah satu nilai lebih dari Dunkirk adalah bagaimana Nolan menolak untuk menggunakan film digital layaknya film-film masa kini, tetapi dirinya memilih untuk menggunakan kombinasi 15/70mm IMAX film dan Super Panavision 65mm untuk mencapai kualitas gambar terbaik. Dunkirk akan menjadi film ketiga dalam 10 tahun terakhir ini setelah The Master (2012) dan The Hateful Eight (2015) yang ditayangkan dengan film 70mm.

Dunkirk akan menjadi sebuah film ekperamental dari Nolan, dengan durasi yang cukup singkat, Dunkirk langsung tancap gas dari awal dan tidak memberi kesempatan penonton untuk bernafas, Nolan ingin penonton merasakan suasana mencekam layaknya berada di tengah-tengah medan perang, dengan kembali bekerja sama untuk keenam kalinya dengan Hans Zimmer, scoring yang ditampilkan lebih banyak bermain di bass yang memacu jantung penonton. bahkan ada beberapa scene yang sepertinya scene tersebut bergetar, namun setelah di cross check dengan pihak bioskop, getaran tersebut bukan muncul dari scene tersebut, melainkan akibat bass dari speaker yang memang berada di belakang layar.

Sangat disarankan untuk menyaksikan film ini di IMAX, karena memang film ini 70% diambil dengan menggunakan kamera khusus IMAX, namun sebaiknya mempersiapkan diri untuk merasakan mabuk laut ketika menyaksikan film ini, dengan layar yang penuh dan 80% adegan berada di tengah laut maupun di udara, ditambah dengan bass yang terus menggebuk jantung, tidak sedikit yang merasa lelah dan mual bahkan harus sesekali beristirahat memejamkan mata sejenak ketika menyaksikan film ini, apabila itu adalah salah satu cinematic experience yang ingin diberikan oleh Nolan kepada penontonnya, maka hal tersebut sukses besar, karena kita akan merasakan ketidak nyamanan layaknya para tentara yang berada di Dunkirk menantikan kepastian nasib mereka. (www.theInigo.com)




No comments